Banyak alasan kenapa hujan selalu menjadi topik hebatku. Petang ini aku baru saja berlabuh pada tepian 'mimpi'. Setelah seharian ini kuhadapi segala ombak dan badai yang hampir membuatku mati. Dalam badai, aku tidak menemukan hujan yang sama. Setengah pecah aku pasrah pada badai. Begitu aku berada hampir dekat dengan 'mimpi', badai kemudian berhenti. Kudapatkan pesan botol pada tepian, "semua pasti ada hikmahnya". Pesan itu membuatku tersedak. Kembali aku renungkan apa yang telah kulakukan seharian ini. Sesaat itu hujan yang sama kembali hadir menenangkan, tak ada yang perlu disesali. Biarkan badai berlalu mencari waktu yang lain. Tak peduli ia akan menghadangku kembali. Percayalah, semua akan baik-baik saja. Biarkan kilat dan gemuruh menggoreskan sedikit luka dalam hati karena aku yakin luka itu akan pulih dengan sendirinya. Biarkan pula hujan ini membasahi wajah agar air mata ini turut satu dan jatuh dengannya. Sesalku kuhapus dengan pelan,kuikhlaskan apa yang telah terjadi. Hanya itu satu-satunya obat penenang saat ini. Meski rasanya seluruh isi dunia ini melarikan diri dari hadapku, hujan mampu berbisik, tersisalah satu yang peduli padamu, Rabbi. Tak ada yang lebih tenang selain cinta-Nya. Hembuskan segala resah tentang badai. Biarkan angin membelai bersama tenang. Tata kembali segala yang kacau karena badai. Lepaskan episode luka ini pada hulu sungai agar tak ada lagi luap sesal dan sedih kembali. Dan wujudkan bintang-bintang yang menggantung di langit semesta dengan mengukir semangat untuk langit tercinta. Tiada lelah dan bosan pada hujan yang turun sama kemarin sore.
![]() |
| Add caption |

