Minggu, 31 Maret 2013

Badai dan Hujan


Banyak alasan kenapa hujan selalu menjadi topik hebatku. Petang ini aku baru saja berlabuh pada tepian 'mimpi'. Setelah seharian ini kuhadapi segala ombak dan badai yang hampir membuatku mati. Dalam badai, aku tidak menemukan hujan yang sama. Setengah pecah aku pasrah pada badai. Begitu aku berada hampir dekat dengan 'mimpi', badai kemudian berhenti. Kudapatkan pesan botol pada tepian, "semua pasti ada hikmahnya". Pesan itu membuatku tersedak. Kembali aku renungkan apa yang telah kulakukan seharian ini. Sesaat itu hujan yang sama kembali hadir menenangkan, tak ada yang perlu disesali. Biarkan badai berlalu mencari waktu yang lain. Tak peduli ia akan menghadangku kembali. Percayalah, semua akan baik-baik saja. Biarkan kilat dan gemuruh menggoreskan sedikit luka dalam hati karena aku yakin luka itu akan pulih dengan sendirinya. Biarkan pula hujan ini membasahi wajah agar air mata ini turut satu dan jatuh dengannya. Sesalku kuhapus dengan pelan,kuikhlaskan apa yang telah terjadi. Hanya itu satu-satunya obat penenang saat ini. Meski rasanya seluruh isi dunia ini melarikan diri dari hadapku, hujan mampu berbisik, tersisalah satu yang peduli padamu, Rabbi. Tak ada yang lebih tenang selain cinta-Nya. Hembuskan segala resah tentang badai. Biarkan angin membelai bersama tenang. Tata kembali segala yang kacau karena badai. Lepaskan episode luka ini pada hulu sungai agar tak ada lagi luap sesal dan sedih kembali. Dan wujudkan bintang-bintang yang menggantung di langit semesta dengan mengukir semangat untuk langit tercinta. Tiada lelah dan bosan pada hujan yang turun sama kemarin sore. 
Add caption

Sabtu, 30 Maret 2013

Hapus Lelah Jadi Bahagia

Senja kelabu ini enggan untuk memaparkan hujan derasnya. Banyak percik yang tersimpan dalam gelapnya awan mendung. Sehingga tak banyak pula yang jatuh menemui bumi. Wahai pemilik hujan, tidakkah kau sedia berikan aku kesejukan akan nikmat-Mu saat ini? Seperti hati ini yang lama lusuh, jauh dari-Mu. Itulah aku, yang tak hentinya bercerita tentang hujan berhenti. Dan disinilah aku memulainya kembali... 
Diantara rintik, ku datang dan berharap hujan berhenti. Dilain alasan, ku berharap hujan berhenti membawaku pada sudut bahagia kala cerita telah usai. Sampai tak akan ada hujan resah lagi setelahnya. Banyak harap kugantung pada jendela langit, namun tak ada satupun yang memahami.

Hujan, kutitipkan segala lelahku padamu agar semuanya melebur dan terhapus hari ini.
Hujan, kutitip pula cerita seharian pada lebatnya air yang turun dan memercik.
Hujan, biarkan airmu datang dan meresap dalam gersangnya kehidupan
Ketika hujan, semua yang kukeluhkan terasa berbincang satu sama lain. Mereka diam tapi  seolah mengejekku. Meracik beberapa pertanyaan yang ditujukan padaku. Disana aku mulai berharap pada yang lain, ya Pelangi. Setelah hujan, aku berharap sejuk ini membawaku pada sosok indah semesta. Membuka lembaran kosong untuk cerita yang masih hambar. Satu indah itu ternyata membawa banyak cerita warna didalamnya. Aku bersyukur akhirnya aku dapatkan mereka. Mereka bersinar, dan sinarnya tampak jelas dengan warnanya masing-masing. Satu demi satu, warna itu menjadi satu lukisan indah dalam semesta. Hadirnya pun tampak selalu paling dinanti. 
Analogiku mulai kehabisan kata---  Tak akan lagi aku bercerita tentang mimpi, namun akan kuceritakan bagaimana aku jatuh hati pada
hujan dan pelangi itu.
Hujan... memanggil namanya pun aku senang :) berharap dia tau apa yang terjadi. Kala hujan, aku senang mencium baunya basah daripada tanah, aku senang melihat perciknya air pertama saat jatuh, aku senang melihat tetesan itu menari di atas dedaunan, haha :D cukup hanya alasan itu terkuak, konyol rasanya ketika tau aku mulai menggilai hujan. Cukup aku bercerita tentang hujan, selebihnya biar kusimpan pada lubuk hati yang kecil ini.

Pelangi... dia memiliki warna yang berbeda, namun tak pernahkah aku mendengar keluhnya karena perbedaan itu. Aku salut padanya. Darinyalah aku merasa sesuatu yang berbeda seperti pelangi. Ketika aku dipertemukan pada warna-warna lain, aku sempat mundur. Namun, pelangi itu muncul dan memberikan ku arti. Dari perbedaan itu tak akan membuatmu terlihat buruk. Karenanya warna satu dengan lainnya akan saling memberikan indah untuk satu yang paling indah. Itulah alasannya kenapa aku mempertahankan pelangiku.  Biarkan keburukan diantara warna itu tertutup oleh kabut indah daripada kami.