Sabtu, 20 April 2013

Ketika Hujan Bersembunyi Pada Malam :)

Malam kemarin, hujan tak hentinya membagi kisah perciknya sejak sore. Entah apa yang membuatnya begitu banyak cerita. Namun, karena cerita itu aku bertemu dengan kisah lamaku yang lama tak berjumpa. Hujan Berhenti. hahaha :D Tak sadar diri ini telah dirasuki malu yang amat geli. Sekedar menghilangkan penat dan lelah, ku pikir keluar & melihat hujan tak ada salahnya. hihihi. Teriring hujan yang membasahi, aku tak takut lagi menghadapi basah. Yaaaa, aku bahagia mencicip rupa meski dari  jauh. ahaha :D Mungkin terakhir kalinya aku akan melihatnya. Astaghfirulloh~ Cukup Mari menabung istighfar. o_O
Dengan jujur, kisah ini tidak terlalu serius untuk ditanggapi. Hanya saja, angin malam membawaku dalam deretan kata. Awan mendung pun sengaja kuserahkan pada matahari yang mungkin akan menghapusnya dalam terang. Teriak mendungku hampir melupakan sinar bintang yang selalu kurindu namun tetap ingin kugapai. Berawal dari sosok, maka terbitlah rangkaian kata membentuk pelangi menghias cerita.  Itulah aku. Aku yang tidak ingin terus menerus hanyut dalam berita badai.  Aku yang tidak ingin terus bersembunyi dalam gelapnya langit. Ingin rasanya menumpahkan semua cita yang lama aku rangkai, tapi tak pernah kudapati. Mengukir goresan tinta sejarah membangun semangat, itu yang sedang ku angankan.. Tak banyak kata dalam lembaran waktu yang bisa ku simpan. Tak akan lama kisahku akan terus berputar, layaknya bumi yang tak akan lama sanggup mengitari matahari. Hanya raja yang mampu memutuskannya. Biarkan prajurit terus menjaga perintah Raja dan terus melakukan apa yang baik untuknya. Biarkan 'hujan berhenti' menjadi kata 'intermezzo' di sela sibuknya hari. haha :D Memberiku cermin untuk menjadi lebih baik dan baik lagi. yeah. Semangat bree :D

Jumat, 05 April 2013

Yang ngerokok satu, yang mati rame-rame. :/

Yakkk, hari ini hujan tidak kunjung di kota hujan. 3 jam tadi siang itu membuatku terus saja menyesal. Bayangkan saja, Aku berlari menghampiri bus kota kelas ekonomi, dan beruntungnya ku daptati bangku yang kosong itu. Na'asnya aku tidak mengetahuinya bahwa apa yang telah kupijaki itu adalah jejak seseorang yang baru saja mengeluarkan "mabuk"nya. Hueeeekk :3 Aku tak mampu bertingkah lagi. Cukup aku memendam rasa "jijik" selama 3 jam kali ini. Huyee~ disusul dengan hembusan asap "kematian" yang berkali-kali di hirup oleh bapak tua yang duduk di depanku. Ohh My God.. Ku rogoh kantong hitam depanku, ahhh ini dia, "minyak kayu pu**h akhirnya ku temukan. Daripada ku hirup asap "kematian" itu, biar kan ku ganti dengan yang alami. :D Ehhhh, berharap tidak ada yang lebih dekat mengeluarkan asap itu, ternyata.. HARKOS. Seorang bapak disampingku mengeluarkan sebatang rokok dan membakar ujungnya kemudian dihisap dan dihembuskannya asap "itu". Iyuuhhhh -,- Andai saja mereka bisa mengahargai kehadiranku ini. :3 Sering kutemukan bapak-bapak ataupun teman lelaki yang beradu argumen tentang kebiasaan mengebul itu. Mereka tidak ingin terganggu ataupun di tegur tentang asap kebulnya, dengan alasan "Urang-urang ieu nu ngarokok, naha maneh nu rempong?" Jelaslah, sekitarnya yang merasa gupek untuk menghindari asap kebul itu, hahhhh -,- tidakkah mereka tau, kami pun ingin dihargai selain batang rokok itu. 

Senin, 01 April 2013

Badai Pasti Berlalu


Hujan… dalam badai aku kembali bersimpuh. Aku lemah. Rasanya tak ingin ada mentari (lagi) yang ingin kusapa. Ingin rasanya aku ingin terus bersamamu, agar tak ada lagi yang tampak kutangisi. Mungkin saja benar ketika dibawah birunya hari aku seperti bunga yang terang dan indah namun ternyata mematikan. Aku sadar  karena itulah mentari mencoba jauh dariku. Aku tak bisa menipu. Inilah aku. Diri yang memang tak sempurna. Aku memang tak ingin memburunya, tapi  biarkan jika aku ingin menujunya. Hahaha :D  Ketika dunia ini terasa menjauh, aku sendiri. Tak ada yang bisa merasakannya, karena mereka telah  tertipu dalam terangnya langit biru. Sering kutemukan mendung padanya, dan ku coba hapus dengan embun. Entah yang kulakukan itu mampu atau memang tertutup kabut. Begitulah aku melihat ke belakang.

Kini ku sendiri dalam tengah badai, tak ingin ada yang tau ketika  tiada. Dalam kata, aku berbincang pada-Nya. Semoga kabut bahagia senang bertemu dengan mereka. Hadirku tak mampu membuat mereka berharap tentang diri ini. Dalam sendiri, kembali ku menarik simpul masa lalu. Hanya satu yang sejati dalam teman maupun keluarga, Rabbi. Begitu bangga aku menyebutnya. Jika saja kudapatkan se-paket Cinta kiriman-Nya, mungkin saat ini aku tak akan (lagi) kutemukan badai.  Langka rasanya mendapatkan yang benar utuh.  Yaaa, itulah harapan. Harapan yang masih dalam jarak tak tentu. 

Di tengah badai, aku merupakan satu yang tenang diantara ombak-ombak besar yang mengelilingi. Itulah sebabnya aku tertunduk. Entah sampai kapan kapal ini berlayar dan akhirnya berlabuh pada tepian sukacita. Mentari pun sudah jauh kulewati sebelum badai, dan entah mana lagi terang yang akan kutemukan.

Dalam penyesalan, sontak ku tertegun. Sebuah angin membawaku keluar dari badai. Setengah kosong aku berkata.  Ku lihat ke belakang, dan badai berlalu. Dalam istikhorohku, ku temukan hikmah (lagi) sebagai  energi untuk mengarungi samudera ini. Semoga terus dan akan selalu ku ingat cerita ini hingga aku kembali temukan sendiri dalam putaran waktu. Begitu singkat aku mendapatkan indah. :) Ini ceritaku, dan mungkin ceritamu. Dalam pesan angin, kudapatkan maaf untuk diriku dan masa lalu yang baru saja kupijaki, karena sesosok bahagia sedang mencari di depanmu. Begitulah kisah tak sempurna jika tak ada badai didalamnya.

PD ala Ubi Cilembu :D


Ubi Cilembu... siapa yang tidak mengenal kultivar ubi jalar yang satu ini? Ubi yang telah menjadi ‘maskot’ Desa Cilembu, kecamatan Pamulihan, Sumedang, Jawa Barat. Okey mari kita kenal lebih dulu  tentang ubi ini,menurut beberapa informasi dari mbah Wiki…

Ubi Cilembu lebih istimewa daripada umbi biasanya karena umbi ini bila dioven akan mengeluarkan sejenis cairan lengket gula madu yang manis rasanya. Karena itu, umbi Cilembu disebut juga dengan umbi si madu. Bila umbi pada umumnya juga manis, rasa manis umbi Cilembu ini lebih manis dan lengket dengan gula madu. Rasa manis ini membuat tenaga ekstra bagi orang yang mengkonsumsinya. Yummyy.. membayangkannya saja sudah membuat lapar. Namun, siapa sangka dalam ubi ini terdapat pelajaran berharga.  Jika anda termasuk orang yang merasa gengsi-an. Maka anda harus belajar pada ubi ini.



Rasa ubi Cilembu yang ditanam di daerah selain di Desa Cilembu ternyata tidak seenak dan tidak selegit yang ditanam di Desa Cilembu. Kenapa hal ini bisa terjadi? Karena ternyata kandungan tanah yang ada di Desa Cilembu ini memiliki unsur hara yang unik dan mempunyai komposisi yang sesuai dan pas dengan ubi Cilembu yang ditanam, yang tidak bisa ditemukan di daerah lainnya di dunia ini. Dosen saya bilang kalau tanah yang ada di Desa Cilembu ini indigenous soildan seharusnya segera dicagarkan karena hanya ada satu-satunya di dunia. Jadi, silahkan anda bilang WOW!!! 

Jadi, pelajaran apa yang telah anda dapat??? Baiklah, saya akan bantu meringkas.
Ubi Cilembu itu ya khasnya Cilembu, ketika benih dan tanahnya diujikan pada tempat lain selain tempat asalnya (desa Cilembu), ternyata kadar manis dari ubi tersebut tidak persis dengan kadar manis ubi yang berasal dari tanah desa Cilembu. Yapp, disini pelajaran kita dapat, seperti dirimu ketika Allah menciptakan kamu dengan keunggulan tersendiri, kamu tidak bisa mencoba menjadi diri orang lain. Yakinilah bahwa apa yang terdapat dalam diri ini akan tiba saatnya membawa kepada pintu bahagia kita. Silahkan kali ini anda berteriak WOW kembali!!!  :D