Hujan… dalam badai aku kembali bersimpuh. Aku lemah. Rasanya
tak ingin ada mentari (lagi) yang ingin kusapa. Ingin rasanya aku ingin terus
bersamamu, agar tak ada lagi yang tampak kutangisi. Mungkin saja benar ketika
dibawah birunya hari aku seperti bunga yang terang dan indah namun ternyata
mematikan. Aku sadar karena itulah
mentari mencoba jauh dariku. Aku tak bisa menipu. Inilah aku. Diri yang memang
tak sempurna. Aku memang tak ingin memburunya, tapi biarkan jika aku ingin menujunya. Hahaha :D Ketika dunia ini terasa menjauh, aku sendiri. Tak
ada yang bisa merasakannya, karena mereka telah tertipu dalam terangnya langit biru. Sering
kutemukan mendung padanya, dan ku coba hapus dengan embun. Entah yang kulakukan
itu mampu atau memang tertutup kabut. Begitulah aku melihat ke belakang.
Kini ku sendiri dalam tengah badai, tak ingin ada yang tau
ketika tiada. Dalam kata, aku berbincang
pada-Nya. Semoga kabut bahagia senang bertemu dengan mereka. Hadirku tak mampu
membuat mereka berharap tentang diri ini. Dalam sendiri, kembali ku menarik
simpul masa lalu. Hanya satu yang sejati dalam teman maupun keluarga, Rabbi. Begitu bangga aku menyebutnya. Jika
saja kudapatkan se-paket Cinta
kiriman-Nya, mungkin saat ini aku tak akan (lagi) kutemukan badai. Langka rasanya mendapatkan yang benar utuh. Yaaa, itulah harapan. Harapan yang masih dalam
jarak tak tentu.
Di tengah badai, aku merupakan satu yang tenang diantara
ombak-ombak besar yang mengelilingi. Itulah sebabnya aku tertunduk. Entah
sampai kapan kapal ini berlayar dan akhirnya berlabuh pada tepian sukacita. Mentari
pun sudah jauh kulewati sebelum badai, dan entah mana lagi terang yang akan
kutemukan.
Dalam penyesalan, sontak ku tertegun. Sebuah angin membawaku
keluar dari badai. Setengah kosong aku berkata.
Ku lihat ke belakang, dan badai berlalu. Dalam istikhorohku, ku temukan
hikmah (lagi) sebagai energi untuk
mengarungi samudera ini. Semoga terus dan akan selalu ku ingat cerita ini
hingga aku kembali temukan sendiri dalam putaran waktu. Begitu singkat aku
mendapatkan indah. :) Ini ceritaku, dan mungkin ceritamu. Dalam pesan angin, kudapatkan maaf untuk
diriku dan masa lalu yang baru saja kupijaki, karena sesosok bahagia sedang
mencari di depanmu. Begitulah kisah tak sempurna jika tak ada badai didalamnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar