Senin, 01 April 2013

Badai Pasti Berlalu


Hujan… dalam badai aku kembali bersimpuh. Aku lemah. Rasanya tak ingin ada mentari (lagi) yang ingin kusapa. Ingin rasanya aku ingin terus bersamamu, agar tak ada lagi yang tampak kutangisi. Mungkin saja benar ketika dibawah birunya hari aku seperti bunga yang terang dan indah namun ternyata mematikan. Aku sadar  karena itulah mentari mencoba jauh dariku. Aku tak bisa menipu. Inilah aku. Diri yang memang tak sempurna. Aku memang tak ingin memburunya, tapi  biarkan jika aku ingin menujunya. Hahaha :D  Ketika dunia ini terasa menjauh, aku sendiri. Tak ada yang bisa merasakannya, karena mereka telah  tertipu dalam terangnya langit biru. Sering kutemukan mendung padanya, dan ku coba hapus dengan embun. Entah yang kulakukan itu mampu atau memang tertutup kabut. Begitulah aku melihat ke belakang.

Kini ku sendiri dalam tengah badai, tak ingin ada yang tau ketika  tiada. Dalam kata, aku berbincang pada-Nya. Semoga kabut bahagia senang bertemu dengan mereka. Hadirku tak mampu membuat mereka berharap tentang diri ini. Dalam sendiri, kembali ku menarik simpul masa lalu. Hanya satu yang sejati dalam teman maupun keluarga, Rabbi. Begitu bangga aku menyebutnya. Jika saja kudapatkan se-paket Cinta kiriman-Nya, mungkin saat ini aku tak akan (lagi) kutemukan badai.  Langka rasanya mendapatkan yang benar utuh.  Yaaa, itulah harapan. Harapan yang masih dalam jarak tak tentu. 

Di tengah badai, aku merupakan satu yang tenang diantara ombak-ombak besar yang mengelilingi. Itulah sebabnya aku tertunduk. Entah sampai kapan kapal ini berlayar dan akhirnya berlabuh pada tepian sukacita. Mentari pun sudah jauh kulewati sebelum badai, dan entah mana lagi terang yang akan kutemukan.

Dalam penyesalan, sontak ku tertegun. Sebuah angin membawaku keluar dari badai. Setengah kosong aku berkata.  Ku lihat ke belakang, dan badai berlalu. Dalam istikhorohku, ku temukan hikmah (lagi) sebagai  energi untuk mengarungi samudera ini. Semoga terus dan akan selalu ku ingat cerita ini hingga aku kembali temukan sendiri dalam putaran waktu. Begitu singkat aku mendapatkan indah. :) Ini ceritaku, dan mungkin ceritamu. Dalam pesan angin, kudapatkan maaf untuk diriku dan masa lalu yang baru saja kupijaki, karena sesosok bahagia sedang mencari di depanmu. Begitulah kisah tak sempurna jika tak ada badai didalamnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar