Yakkk, hari ini hujan tidak kunjung di kota hujan. 3 jam tadi siang itu membuatku terus saja menyesal. Bayangkan saja, Aku berlari menghampiri bus kota kelas ekonomi, dan beruntungnya ku daptati bangku yang kosong itu. Na'asnya aku tidak mengetahuinya bahwa apa yang telah kupijaki itu adalah jejak seseorang yang baru saja mengeluarkan "mabuk"nya. Hueeeekk :3 Aku tak mampu bertingkah lagi. Cukup aku memendam rasa "jijik" selama 3 jam kali ini. Huyee~ disusul dengan hembusan asap "kematian" yang berkali-kali di hirup oleh bapak tua yang duduk di depanku. Ohh My God.. Ku rogoh kantong hitam depanku, ahhh ini dia, "minyak kayu pu**h akhirnya ku temukan. Daripada ku hirup asap "kematian" itu, biar kan ku ganti dengan yang alami. :D Ehhhh, berharap tidak ada yang lebih dekat mengeluarkan asap itu, ternyata.. HARKOS. Seorang bapak disampingku mengeluarkan sebatang rokok dan membakar ujungnya kemudian dihisap dan dihembuskannya asap "itu". Iyuuhhhh -,- Andai saja mereka bisa mengahargai kehadiranku ini. :3 Sering kutemukan bapak-bapak ataupun teman lelaki yang beradu argumen tentang kebiasaan mengebul itu. Mereka tidak ingin terganggu ataupun di tegur tentang asap kebulnya, dengan alasan "Urang-urang ieu nu ngarokok, naha maneh nu rempong?" Jelaslah, sekitarnya yang merasa gupek untuk menghindari asap kebul itu, hahhhh -,- tidakkah mereka tau, kami pun ingin dihargai selain batang rokok itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar